Terletak di dalam AYANA Bali, Museum SAKA adalah pusat budaya dan destinasi yang menarik untuk dikunjungi di Bali. SAKA mengajak pengunjung memahami lebih dalam makna dari perayaan Nyepi serta berbagai ekspresi seni dan budaya yang erat kaitannya dengan filosifi Bali, Tri Hita Karana.
Nama museum ini sendiri mencerminkan misinya yaitu menjadi jembatan yang menghubungkan jejak sejarah Bali, masa kini, dan masa depan Bali yang penuh harapan.
.jpg)
Discover centuries of Balinese wayang painting at SAKA Museum, where classical sacred art meets modern stories through 34 works by 17 artists.
Pelajari lebih lanjut
Tradisi Bali menyebutkan bahwa seluruh kehidupan terdiri dari lima unsur. Empat di antaranya—Tanah, Air, Api, dan Udara—serupa dengan yang dikenal dalam tradisi Eropa sejak masa Yunani kuno. Namun, masyarakat Bali menambahkan unsur kelima, yaitu Akasa. Unsur ini kerap disebut sebagai Ether, namun akasa juga kadang diterjemahkan sebagai ‘ketiadaa...
Pelajari lebih lanjut
Tangan-tangan terampil ayah-anak, I Made Sugiantara dan I Wayan Ponco Maryuda dari desa Singapadu, Gianyar, adalah kisah yang menarik tentang tradisi dan inovasi seni di Bali. Warisan seni mereka berakar dari Wayan Pugeg, kakek Ponco, seorang pemahat ulung sekaligus perintis ogoh-ogoh di wilayah tersebut. Keluarga ini meninggalkan jejak panjang...
Pelajari lebih lanjut
Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam, yang akrab disapa Gusman Surya, berasal dari Banjar Kelodan Tampaksiring, Gianyar, dan identik dengan seni ogoh-ogoh. Secara otodidak, perjalanannya di dunia seni dimulai sejak muda, terinspirasi oleh para artisan Tampaksiring lainnya, termasuk sepupunya Gus Kembar, saudaranya Gus Kadek, dan para senior seperti Gu...
Pelajari lebih lanjut-min.jpg)
Jelajahi Museum SAKA secara interaktif dengan "Island of Bali: Museum Trail"! Pecahkan petunjuk dari buku panduan berbahasa Inggris kami tentang seni Bali untuk mengungkap kata kunci tersembunyi. Sempurna untuk semua usia, aksesibel kursi roda, dan dipandu. Terinspirasi dari perjalanan Miguel & Rosa Covarrubias!

Connect school curriculum with Balinese culture at SAKA Museum. Plan educational visits on art, history, & environment via forschools.sakamuseum.org
Museum SAKA merupakan bagian dari AYANA Bali dengan akses masuk melalui gerbang utama AYANA Bali.
.png)

I Putu Candra Pradhita dikenal sebagai penari Bali yang piawai, namun kecintaannya pada seni ogoh-ogoh tetap tak pernah luntur. Ia memilih memadukan keduanya—gerak tari dan unsur dramatik pun hadir memperkaya karya ogoh-ogoh ciptaannya. Pada ogoh-ogoh kali ini, Candra menampilkan sosok Srikandi, tokoh penting dalam epos Mahabharata yang dikenal sebagai pejuang pemberani dan melampaui batas-batas identitas gender.
Srikandi terlahir sebagai Putri Amba, yang pernah ditolak oleh tiga calon suami hingga akhirnya mengutuk mereka. Setelah kematiannya, Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi—kesatria wanita yang tangguh dan bertekad menuntut keadilan.
Dalam kisah Perang Kurukshetra, Srikandi berhadapan dengan Bhishma, salah satu kesatria terkuat pada zamannya. Bhishma tak mampu melawan Srikandi karena telah bersumpah tidak akan menyakiti perempuan. Srikandi memanfaatkan kesempatan ini dan berhasil menumbangkan Bhishma.
Kisah Srikandi menjadi pengingat bahwa setiap orang, tanpa memandang gender atau identitasnya, memiliki potensi untuk melakukan hal-hal besar. Cerita ini juga mengajarkan pentingnya untuk tidak menilai seseorang hanya dari tampilan luar atau latar belakangnya.

Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam, yang akrab disapa Gusman Surya, berasal dari Banjar Kelodan Tampaksiring, Gianyar, dan identik dengan seni ogoh-ogoh. Secara otodidak, perjalanannya di dunia seni dimulai sejak muda, terinspirasi oleh para artisan Tampaksiring lainnya, termasuk sepupunya Gus Kembar, saudaranya Gus Kadek, dan para senior seperti Gus Ceng. Cita-cita Gusman melampaui prestasi personal, ia bertekad membina dan membimbing generasi muda di komunitasnya, memastikan kelestarian seni yang ia cintai. Ia percaya akan pentingnya kebersatuan emosional dan taksu (kekuatan spiritual dalam berkarya seni, termasuk dalam pembuatan ogoh-ogoh) sebagai hal yang tak tergantikan dalam menjaga budaya Bali.
Di Bali, memohon perlindungan gaib saat kelahiran seorang anak adalah tradisi yang kental dan wajib dilaksanakan. Salah satunya, Ngewacak Raré, yang bersumber dari Tenung Pewacakan Raré, adalah ritual yang diyakini melindungi anak-anak hingga mereka menjalani upacara “naik dewasa”. Hingga saat itu, mereka berada di bawah pengawasan dan penjagaan Sanghyang Kumara, dewa kemurnian dan kepolosan. Folklor Bali juga memperkenalkan “saudara gaib” seperti Babu Jenggi dan Babu Pangguh yang menemani bayi sejak lahir. Persembahan kepada saudara gaib ini menjadi hal penting demi terjaganya keharmonisan. Ngewacak Raré mencerminkan kepercayaan masyarakat Bali untuk menjaga ketentraman dengan cara merawat aspek kasatmata maupun tak kasatmata dalam kehidupan.

Wayan Buda Mahardika yang akrab disapa Buda, adalah seniman ogoh-ogoh ternama asal Singaraja. Transformasi besar dalam karier seninya bermula saat ia beralih profesi dari pelukis menjadi artisan tapel (topeng) ogoh-ogoh. Kolaborasinya bersama Ritual Art dan Sigrut Artwork menghasilkan penghargaan seperti juara dua Lomba Ogoh-Ogoh Mini (2019). Rekan kreatifnya, Putu Willy Suryana atau Pepi, mewujudkan ide-ide mereka melalui seni digital. Bersama-sama, mereka meraih banyak prestasi dan fokus pada penggunaan material ramah lingkungan.
Mahesasura Pralaya adalah penggalan kisah dari Kishkindha Kanda dalam epos Ramayana, yang menceritakan pertarungan fantastis antara Subali dan Mahesasura, raja para raksasa. Pertempuran ini sarat dengan campur-tangan takdir dan kesalahpahaman, yang berujung pada pengampunan Subali oleh Rama, sebelum akhirnya menerima anugerah kesaktian dari Bhatara Guru.

I Wayan Arif Masriadi adalah salah satu seniman ogoh-ogoh terkemuka di Jimbaran. Sejak kecil, ia telah mengasah bakatnya, berawal dari coretan sederhana di buku sketsa yang menumbuhkan hasrat untuk menghadirkan pagelaran besar bagi komunitasnya. Baginya, seni yang berlandaskan rasa memiliki kekuatan luar biasa, bahkan mampu memikat mereka yang belum mengerti seluk-beluknya. Masriadi juga menegaskan pentingnya menjunjung etika dalam berkesenian, terlepas dari perbedaan pandangan dan pendapat.
Dalam kosmologi Hindu, keluwesan feminin melengkapi kekuatan maskulin, yang terwujud melalui Tri Dewi: Saraswati, Laksmi, dan Parwati. Dewi Saraswati melambangkan kebijaksanaan, pengetahuan, dan kreativitas. Beliau diyakini sebagai kekuatan yang menjembatani kearifan semesta dengan keindahan duniawi, sekaligus memberi wujud pada gagasan-gagasan di hamparan kosmos.

Tangan-tangan terampil ayah-anak, I Made Sugiantara dan I Wayan Ponco Maryuda dari desa Singapadu, Gianyar, adalah kisah yang menarik tentang tradisi dan inovasi seni di Bali. Warisan seni mereka berakar dari Wayan Pugeg, kakek Ponco, seorang pemahat ulung sekaligus perintis ogoh-ogoh di wilayah tersebut. Keluarga ini meninggalkan jejak panjang dalam seni patung, mulai dari gaya tradisional hingga modern surealis, termasuk karya unik mereka berupa “robotic ogoh-ogoh.” Kolaborasi mereka bukan hanya penghormatan kepada masa lalu, tetapi juga tarian hidup antara tradisi dan modernitas—sebuah percakapan lintas generasi di mana kebijaksanaan lama membimbing semangat baru yang penuh energi.
Kisah ogoh-ogoh ini mengangkat tokoh Wisnu, Brahma, dan Sang Bhoma. Sang Bhoma adalah figur utama ogoh-ogoh, kerap disebut sebagai “Putra Pertiwi” karena lahir dari pernikahan Wisnu dan Dewi Pertiwi. Sang Bhoma digambarkan sebagai sosok yang kuat sekaligus destruktif, perwujudan dari amarah Siwa. Ia sering digambarkan sebagai raksasa dengan sifat pemarah dan diyakini memiliki kemampuan mengendalikan kekuatan alam. Kisah Sang Bhoma menjadi pengingat bahwa bahkan para dewa pun bisa bersifat merusak, sekaligus menegaskan pentingnya keseimbangan antara penciptaan dan kehancuran dalam menjaga harmoni semesta.

Di tengah gelora industri kreatif Bali, di mana tradisi dan inovasi saling memperkaya, dua seniman ternama, Komang Gede Sentana Putra dan Ida Bagus Nyoman Surya Wigenam, memadukan keahlian mereka dalam sebuah karya yang spektakuler. Kini, karya kolaborasi itu menjulang megah di Museum SAKA sebagai ogoh-ogoh tertinggi di Bali. Karya tersebut bukan hanya tentang kesamaan visi artistik mereka, tetapi juga terkait rasa hormat, saling pengertian, dan kesediaan untuk melampaui kehendak pribadi demi lahirnya karya seni kolektif yang monumental.
Ogoh-ogoh ini mengangkat kisah Rahwana, tokoh antagonis utama dalam epos Ramayana. Rahwana adalah raja raksasa yang kuat dan cerdik, terkenal akan tabiatnya yang menggetarkan dan sembah-baktinya kepada Dewa Siwa. Wahana bersayapnya, Wilmana, adalah tunggangan sakti yang dikendarainya di medan pertempuran melawan Rama. Meskipun Rahwana memiliki kesaktian yang dahsyat, ia akhirnya ditaklukan oleh Rama, yang mewakili kebaikan dan kebenaran. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan, bahkan di masa terkelam sekalipun.
.jpg)
Susuri lorong-lorong asri Kamasan, tempat ajaran suci, kisah kerajaan, dan pengetahuan masa lalu diwujudkan dalam lukisan. Diwariskan dari generasi ke generasi, tradisi ini terus hidup dalam karya para perupa Kamasan hari ini.
Di Kamasan, sebuah desa sekitar 43 kilometer di sebelah timur Denpasar, berkembang bahasa visual yang bertahan selama berabad-abad. Seni lukis Kamasan berkembang pesat pada masa Kerajaan Gelgel pada abad ke-16, lalu terus berkembang di bawah patronase istana-istana di Klungkung. Para perupa mengolah kisah Ramayana, Mahabharata, Sutasoma, Panji, dan Tantri menjadi lukisan. Dalam prosesnya, mereka mengikuti pakem wayang Kamasan yang diwariskan turun-temurun, termasuk dalam penggambaran tokoh (wong-wongan), gestur, dan ornamen. Warna-warnanya dihasilkan dari mineral, tumbuhan, dan jelaga.
Kamasan adalah komunitas yang erat, tempat banyak pelukis tinggal dan berkarya sebagai tetangga. Pengetahuan diwariskan dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, dan dari tokoh agama kepada seniman. Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015, tradisi ini diteruskan melalui keluarga, para guru, sanggar, dan komunitas banjar. Belajar seni lukis Kamasan berarti memperoleh kepercayaan masyarakat sekaligus menguasai dan merawat tekniknya.
Bahasa visual dan langgam seni lukis klasik ini terus berkembang. Teknik yang dahulu digunakan untuk menggambarkan dewa-dewi dan kisah epik kini dipakai untuk mengangkat berbagai fenomena kehidupan masa kini, termasuk pencemaran laut, pandemi COVID-19, perempuan yang menjalani beragam profesi baru, dan sejarah Indonesia yang dituturkan kembali dari sudut pandang Bali.
Pameran ini menghadirkan 34 karya dari 17 seniman dan kontributor. Saksikan ider-ider sepanjang sembilan meter yang menuturkan kisah kepahlawanan Bharatayuddha. Dahulu digantung di pinggiran atap pura, karya ini melingkupi umat yang bersembahyang dengan pesan tentang kebajikan dan keberanian. Temui pula langsé, tirai upacara yang dahulu digunakan untuk menutupi benda-benda sakral dan menyembunyikan para penampil sebelum mereka memasuki ruang upacara. Karya-karya Kamasan tetap hidup dalam konteks ritual, sekaligus berkembang melalui museum, galeri, dan praktik para perupa yang kini semakin dikenal namanya. Perluasan konteks ini membuka ruang bagi generasi baru untuk mengolah bahasa visual Kamasan melalui bahan, bentuk, dan tema yang berbeda.
Amati karya I Nyoman Mandra, Rahwana Merusak Kailasa, yang menggambarkan raja raksasa Rahwana berusaha mengangkat gunung suci Siwa hingga terimpit di bawahnya. Simak Gugur Bisma karya Mangku Mura, yang menggambarkan gugurnya salah satu sesepuh paling dihormati dalam Mahabharata. Lihat juga bagaimana Ibu Mangku Muriati menerapkan bahasa seni lukis klasik Kamasan untuk mengangkat aktivitas perempuan pekerja, raungan sirene ambulans, ancaman kerusakan lingkungan, dan sejarah kolonial.
Temui juga generasi perupa muda. Salah satunya menggunakan warna neon yang benderang dan spidol pada bentangan kain katun mentah yang digantung seperti tirai upacara. Perupa lain memetakan tubuh manusia sebagai mikrokosmos yang dipenuhi aksara suci. Perupa muda berikutnya menggunakan arang di atas kertas kulit kayu untuk menghormati seorang maestro dari generasi terdahulu. Sebagian besar dibuat dalam lima tahun terakhir, karya-karya ini mewarisi tradisi sekaligus membuka kemungkinan kreatif baru.
Area pembelajaran di seluruh ruang pamer mengajak pengunjung mendalami kekhasan seni lukis Kamasan. Telusuri seribu tahun perkembangan seni Bali melalui garis waktu sejarah, dari prasasti abad ke-11 hingga para perupa yang berkarya hari ini. Pelajari cara membaca sistem visual Kamasan: bagaimana raut wajah menandai tokoh, gestur menggerakkan cerita, dan pedum karang membagi lukisan menjadi bidang-bidang kisah dengan beragam makna. Kenali nuansa warna bumi yang menjadi ciri Kamasan, lalu ikuti kisah-kisah yang terus hidup melalui gambar-gambarnya.
Kunjungi Museum SAKA dan saksikan seni lukis Kamasan lintas generasi, dari karya-karya yang hadir dalam ruang ritual hingga eksplorasi para perupa masa kini.


Tradisi Bali menyebutkan bahwa seluruh kehidupan terdiri dari lima unsur. Empat di antaranya—Tanah, Air, Api, dan Udara—serupa dengan yang dikenal dalam tradisi Eropa sejak masa Yunani kuno. Namun, masyarakat Bali menambahkan unsur kelima, yaitu Akasa. Unsur ini kerap disebut sebagai Ether, namun akasa juga kadang diterjemahkan sebagai ‘ketiadaan’, ‘nol’, atau ‘ruang’. Akasa diyakini bersifat abadi dan tak rusak, berbeda dengan empat unsur lainnya yang hadir dalam dunia fisik yang sementara.
Lima unsur ini mewarnai seluruh aspek kehidupan Bali: agama, seni, budaya, filsafat, ritual, hingga pengetahuan spiritual. Setiap unsur menguasai ranah tertentu, memiliki karakteristik khusus, dan terhubung dengan jagat kecil (buwana alit) maupun jagat besar (buwana agung), serta siklus hidup sehari-hari. Kelima unsur ini juga terkait dengan kalender matahari dan bulan, planet, tempat, arah mata angin, hingga para dewa dalam wujud ramah maupun murka.
Temukan keselarasan antara kosmos dan kehidupan sehari-hari dalam Pameran Panca Maha Bhuta.
.jpg)
Subak adalah organisasi petani Bali yang bersifat mandiri dan demokratis, bertanggung jawab atas sawah bertumpuk yang terkenal di pulau ini.
Prasasti kuno yang dikeluarkan oleh raja-raja Bali telah menyebutkan subak sejak abad ke-11 Masehi. Dasar dari sistem subak adalah keyakinan bahwa air dari danau, sungai, dan mata air Bali merupakan anugerah Dewi yang penuh kasih, “yang membuat air mengalir.” Para petani yang berbagi aliran air termasuk dalam subak, yang bertugas mengatur dan memastikan pembagian air berlangsung adil. Berakar pada filosofi kuno Tri Hita Karana, subak berupaya menjaga harmoni antara alam (palemahan), dunia manusia (pawongan), dan dimensi spiritual (parhyangan).
Kunjungi Subak: Tatanan Kuno Bali untuk menyaksikan kebijaksanaan leluhur yang hidup kembali, sekaligus menemukan nilai berharga dari pengetahuan tradisional yang tetap relevan di dunia modern.

Kasanga, bulan kesembilan dalam kalender Bali, menandai masa pembaruan dan transformasi bagi masyarakat Bali. Jatuh pada bulan Maret, inilah saat Bali merayakan Nyepi, Hari Raya Sunyi, yang menjadi awal Tahun Baru Saka. Periode ini mengundang refleksi spiritual yang mendalam, penyucian diri, serta pemulihan keseimbangan antara manusia, alam, dan sang pencipta.
Rangkaian upacara Kasanga berlangsung melalui serangkaian ritual sakral. Melasti adalah prosesi penyucian ke laut untuk membersihkan benda-benda suci. Dilanjutkan dengan Tawur Kasanga, berupa persembahan besar-besaran demi menjaga keharmonisan kosmos. Pada Pengrupukan, seluruh pulau bergemuruh dalam semarak pawai ogoh-ogoh yang melambangkan pengusiran energi negatif. Ritual ini mencapai puncaknya di Hari Nyepi, ketika seluruh pulau memasuki satu hari penuh keheningan, refleksi, dan meditasi. Siklus ditutup dengan Ngembak Geni, saat pembaruan, saling memaafkan, dan menjalin kembali hubungan. Keseluruhan rangkaian ini mencerminkan prinsip somya (keseimbangan), sunya (keheningan), dan ramya (kegembiraan).
Pameran ini menghadirkan reinterpretasi tradisi Kasanga melalui ekspresi seni kontemporer. Menggabungkan dokumen sejarah dengan karya seni modern, pameran ini menampilkan karya para seniman dan penjaga budaya Bali. Kurator Wayan Seriyoga Parta, Made Susanta Dwitanaya, Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, Dewa Gede Purwita (Gurat Institute), dan Marlowe Bandem (SAKA Museum) mengundang Anda untuk menyelami perpaduan antara perayaan dan keheningan dalam budaya Bali.

Hubungkan pembelajaran di kelas dengan budaya Bali melalui kunjungan ke Museum SAKA.
Museum SAKA bekerja bersama guru untuk merencanakan kunjungan yang sesuai dengan tujuan belajar siswa. Gunakan Curriculum Map untuk menemukan tema dan mata pelajaran yang relevan, baca Collaboration Guide, lalu ajukan rencana kunjungan untuk ditinjau oleh tim Education.
Siswa dapat mengenal Bali melalui seni, sejarah, masyarakat, lingkungan, dan praktik budaya yang terus berlangsung. Lihat keterkaitannya dengan pembelajaran di kelas dan mulai rencanakan kunjungan melalui forschools.sakamuseum.org.
%20(2).jpg)
Ingin menjelajahi museum dengan cara yang seru, interaktif, sekaligus menantang?
Coba “Island of Bali: Museum Trail” di Museum SAKA, sebuah perpaduan antara eksplorasi budaya dan teka-teki yang menyenangkan! Anda akan menerima buku panduan khusus (berbahasa Inggris) yang berisi pertanyaan menarik seputar karya seni dan artefak Bali yang dipamerkan. Setiap jawaban akan membawa Anda lebih dekat untuk menemukan kata kunci tersembunyi yang terjalin dalam kisah budaya di dalam pameran.
Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melatih ketelitian sekaligus mendorong interaksi langsung dengan koleksi museum.
Program ini terinspirasi dari perjalanan Miguel & Rosa Covarrubias, pasangan seniman yang pernah mendokumentasikan keindahan budaya Bali melalui karya mereka. Ikuti pengalaman ini hanya di Museum SAKA. Temukan jawabannya, ungkap rahasianya, dan kenali Bali dari sudut pandang berbeda!
Mulai petualangan dengan membeli tiket museum dan menambahkan program ini melalui laman tiket kami ticket.sakamuseum.org!