KAMASAN: Tradisi Luhur Seni Lukis Bali

KAMASAN: Tradisi Luhur Seni Lukis Bali

Susuri lorong-lorong asri Kamasan, tempat ajaran suci, kisah kerajaan, dan pengetahuan masa lalu diwujudkan dalam lukisan. Diwariskan dari generasi ke generasi, tradisi ini terus hidup dalam karya para perupa Kamasan hari ini.

Di Kamasan, sebuah desa sekitar 43 kilometer di sebelah timur Denpasar, berkembang bahasa visual yang bertahan selama berabad-abad. Seni lukis Kamasan berkembang pesat pada masa Kerajaan Gelgel pada abad ke-16, lalu terus berkembang di bawah patronase istana-istana di Klungkung. Para perupa mengolah kisah Ramayana, Mahabharata, Sutasoma, Panji, dan Tantri menjadi lukisan. Dalam prosesnya, mereka mengikuti pakem wayang Kamasan yang diwariskan turun-temurun, termasuk dalam penggambaran tokoh (wong-wongan), gestur, dan ornamen. Warna-warnanya dihasilkan dari mineral, tumbuhan, dan jelaga.

Kamasan adalah komunitas yang erat, tempat banyak pelukis tinggal dan berkarya sebagai tetangga. Pengetahuan diwariskan dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid, dan dari tokoh agama kepada seniman. Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2015, tradisi ini diteruskan melalui keluarga, para guru, sanggar, dan komunitas banjar. Belajar seni lukis Kamasan berarti memperoleh kepercayaan masyarakat sekaligus menguasai dan merawat tekniknya.

Bahasa visual dan langgam seni lukis klasik ini terus berkembang. Teknik yang dahulu digunakan untuk menggambarkan dewa-dewi dan kisah epik kini dipakai untuk mengangkat berbagai fenomena kehidupan masa kini, termasuk pencemaran laut, pandemi COVID-19, perempuan yang menjalani beragam profesi baru, dan sejarah Indonesia yang dituturkan kembali dari sudut pandang Bali.

Pameran ini menghadirkan 34 karya dari 17 seniman dan kontributor. Saksikan ider-ider sepanjang sembilan meter yang menuturkan kisah kepahlawanan Bharatayuddha. Dahulu digantung di pinggiran atap pura, karya ini melingkupi umat yang bersembahyang dengan pesan tentang kebajikan dan keberanian. Temui pula langsé, tirai upacara yang dahulu digunakan untuk menutupi benda-benda sakral dan menyembunyikan para penampil sebelum mereka memasuki ruang upacara. Karya-karya Kamasan tetap hidup dalam konteks ritual, sekaligus berkembang melalui museum, galeri, dan praktik para perupa yang kini semakin dikenal namanya. Perluasan konteks ini membuka ruang bagi generasi baru untuk mengolah bahasa visual Kamasan melalui bahan, bentuk, dan tema yang berbeda.

Amati karya I Nyoman Mandra, Rahwana Merusak Kailasa, yang menggambarkan raja raksasa Rahwana berusaha mengangkat gunung suci Siwa hingga terimpit di bawahnya. Simak Gugur Bisma karya Mangku Mura, yang menggambarkan gugurnya salah satu sesepuh paling dihormati dalam Mahabharata. Lihat juga bagaimana Ibu Mangku Muriati menerapkan bahasa seni lukis klasik Kamasan untuk mengangkat aktivitas perempuan pekerja, raungan sirene ambulans, ancaman kerusakan lingkungan, dan sejarah kolonial.

Temui juga generasi perupa muda. Salah satunya menggunakan warna neon yang benderang dan spidol pada bentangan kain katun mentah yang digantung seperti tirai upacara. Perupa lain memetakan tubuh manusia sebagai mikrokosmos yang dipenuhi aksara suci. Perupa muda berikutnya menggunakan arang di atas kertas kulit kayu untuk menghormati seorang maestro dari generasi terdahulu. Sebagian besar dibuat dalam lima tahun terakhir, karya-karya ini mewarisi tradisi sekaligus membuka kemungkinan kreatif baru.

Area pembelajaran di seluruh ruang pamer mengajak pengunjung mendalami kekhasan seni lukis Kamasan. Telusuri seribu tahun perkembangan seni Bali melalui garis waktu sejarah, dari prasasti abad ke-11 hingga para perupa yang berkarya hari ini. Pelajari cara membaca sistem visual Kamasan: bagaimana raut wajah menandai tokoh, gestur menggerakkan cerita, dan pedum karang membagi lukisan menjadi bidang-bidang kisah dengan beragam makna. Kenali nuansa warna bumi yang menjadi ciri Kamasan, lalu ikuti kisah-kisah yang terus hidup melalui gambar-gambarnya.

Kunjungi Museum SAKA dan saksikan seni lukis Kamasan lintas generasi, dari karya-karya yang hadir dalam ruang ritual hingga eksplorasi para perupa masa kini.

Pameran

Kasanga - SAKA Museum in Bali

KASANGA

Kasanga, bulan kesembilan dalam kalender Bali, menandai masa pembaruan dan transformasi bagi masyarakat Bali. Jatuh pada bulan Maret, inilah saat Bali merayakan Nyepi, Hari Raya Sunyi, yang menjadi awal Tahun Baru Saka. Periode ini mengundang refleksi spiritual yang mendalam, penyucian diri, serta pemulihan keseimbangan antara manusia, alam, dan...

Pelajari lebih lanjut
Panca Maha Bhuta: Lima Unsur Agung - SAKA Museum in Bali

Panca Maha Bhuta: Lima Unsur Agung

Tradisi Bali menyebutkan bahwa seluruh kehidupan terdiri dari lima unsur. Empat di antaranya—Tanah, Air, Api, dan Udara—serupa dengan yang dikenal dalam tradisi Eropa sejak masa Yunani kuno. Namun, masyarakat Bali menambahkan unsur kelima, yaitu Akasa. Unsur ini kerap disebut sebagai Ether, namun akasa juga kadang diterjemahkan sebagai ‘ketiadaa...

Pelajari lebih lanjut
To Top
Tiket